Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.
Aku Diutus Menyampaikan Kabar Baik kepada Orang-Orang Miskin. Tiada Nabi yang Dihargai di Tempat Asalnya
Senin, 30 Agustus 2010
Bacaan: 1 Kor 2:1-5 - Mzm 119:97-102 - Mat 4:16-30
Renungan Pada mulanya, orang Nazareth mengagumi Dia karena segala kata-kata indah dan penuh kuasa yang disampaikannya. "Bukankah Dia ini anak Yusuf?" kata mereka dengan kagum. Namun mengapa mereka lalu marah kepada Yesus? Ternyata Yesus memberi penghargaan kepada bangsa-bangsa lain dengan mengutip pengalaman dua nabi: Elia yang menolong janda di Sarfat dan Eliza yang menolong Naaman dari Siria. Karena merasa diri sebagai bangsa pilihan Yahweh, mereka sulit menerima kata-kata Yesus Penghargaan kepada bangsa lain mereka lihat tudingan atau penghinaan terhadap mereka. Rasa kagum sebelumnya berubah menjadi rasa benci. Mereka merasa terhina. Tapi sesungguhnya Yesus tidak menghina mereka, karena yang disampaikan itu tertulis dalam kisah nabi-nabi. Kata-kata Yesus hanyalah untuk menyadarkan, bahwa Tuhan menghargai siapa saja yang layak di mata-Nya, bukan soal dia keturunan Yahudi atau tidak.
Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.
"Korannya bu !"seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan. Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang. "Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang. "Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca", jawab si ibu.
Juri I : Sebenarnya, tidak ada yang ingin saya katakan. Saya ingin para penonton untuk mendengarkan Anda, bagaimana Anda bisa melakukan itu? Bahkan dengan tangan, kita harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar piano.
Liu Wei : Saya rasa, hanya ada dua pilihan dalam hidup saya, mati sekarang, atau hidup indah. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa piano dapat dimainkan hanya menggunakan tangan.
Juri I : Termasuk saya sendiri, termasuk komite, termasuk penonton di depan layar televisi telah melihat Liu Wei, telah mendengarkan musiknya. Saya pikir semua keluhan dan ketidakpuasan dalam hidup harus dihapuskan. Lihat saja seorang pria muda, caranya memainkan piano yang menyentuh hati orang banyak. Saya pikir kita semua harus berhenti mengeluh tentang hidup. Sama seperti yang Anda katakan, hidup penuh keindahan. Terima kasih!
Last Updated on Thursday, 26 August 2010 11:50
Jadwal Misa & Adorasi
Misa pagi: pk. 05.30
Sabtu sore: pk. 18.00
Minggu: pk. 06.30 & 08.30 & 17:00
Sakramen Tobat: setiap hari sesudah misa pagi / Sabtu sebelum misa sore.
Adorasi setiap hari Senin - Minggu jam 06:00 - 22:00. Kecuali Natal, Kamis Putih - Minggu Paskah & Idul Fitri. Khusus hari Jumat pertama buka jam 06:00 - 18:00.